Sahabat, sahabat adalah seseorang yang selalu ada untuk kita melebihi dari hanya sekedar teman biasa. Semua orang pasti punya sahabat, begitupun aku. Sejak kecil aku memiliki seorang sahabat namanya Pieter. Pieter merupakan sahabat yang baik, hampir setiap hari Pieter bermain dengan ku banyak permainan yang sering aku mainkan bersama dia tetapi tanpa aku sadari ternyata ada yang berbeda dari Pieter. Aku tersadar ketika aku mulai beranjak dewasa. Suatu hari aku bermain dengan Pieter dihalaman belakang rumahku. Aku dan Pieter bermain ayunan dan setelah itu aku mengajak Pieter untuk memberi makan ikan "lihatlah ikan-ikan itu, mereka sangat lahap makannya" ucapku pada Pieter. Tapi Pieter hanya tersenyum kepada ku dan tak berkata apa-apa. Tiba-tiba aku mendengar suara ibuku yang memanggilku untuk makan siang " ayo Pieter kita makan siang dulu ibu sudah memanggil" ajakku pada Pieter. pieter tak menjawab apa apa ia hanya mengangguk sambil tersenyum kepadaku,aku dan pieter bergegas masuk kerumah menemui ibuku diruang makan" hari ini kita makan siang dengan apa bu" tanyaku pada ibu "ibu sudah membuatkan sup ayam kesukaan kamu" jawab ibu "asiiik" jawabku kegirangan akupun segera duduk di kursi " ayolah pieter duduklah disebelahku" ucapku. dan lagi lagi pieter hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian ia duduk disebelahku.setelah ibuku selsai menyiapkan makanan keatas meja makan ibu duduk disebelahku. Ketika ibu hendak duduk "jangan duduk disitu bu, disitu kan ada Pieter masa ibu tidak melihat" larangku pada ibu. Ibu melihatku dengan tatapan keheranan. Akupun bingung kenapa ibu menatapku seperti itu. Kemudian, ibu duduk di kursi yang lain berhadapan denganku, kami pun makan siang bersama. Ibu mengalaskan nasi pada piring ku "kok hanya aku saja yang diambilkan nasi, Pieter kan juga mau bu" tanyaku pada ibu, ibu pun kembali keheranan. Dengan wajah yang bingung, ibu mengalaskan nasi pada piring ku dan Pieter "terima kasih bu" ucapku "sama-sama sayang" ucap ibu. Kami pun makan bertiga di meja makan. Tapi seketika, aku heran karena Pieter tidak mau memakan makanannya "kenapa kau tidak makan Pieter" tanyaku pada Pieter. Pieter hanya menggelengkan kepala. Setelah makan aku dan Pieter kembali bermain dan aku masih heran kenapa tadi Pieter tidak memakan makanannya "mungkin Pieter sedang tidak lapar" pikirku dalam hati. Tak terasa hari sudah menjelang sore aku pun berpamitan pada Pieter untuk masuk kedalam rumah Pieter hanya mengangguk dan kemudian ia pun berjalan menuju pagar rumahku dan kemudian ia berjalan pulang kerumah nya, tadi merupakan hari yang menyenangkan.
Persahabatan kami sudah berjalan cukup lama, hingga saat aku menginjak bangku smp aku sudah tidak pernah lagi bermain dengan Pieter karena Pieter tidak pernah datang ke rumahku. Terkadang aku bertanya-tanya mengapa Pieter tidak pernah lagi bermain ke rumahku padahal aku sangat merindukannya aku ingin mengulang masa-masa saat kami masih kecil. Menginjak bangku sma aku mulai mencari tahu keberadaan Pieter akan tetapi tidak ada yang tahu tentang Pieter, akupun mencoba bertanya pada ibuku siapa tahu ibu bisa membantuku mencari tahu keberadaan Pieter. Kemudian, aku menemui ibuku yang sedang yang sedang duduk sambil minum teh dihalaman depan rumah aku pun duduk disebelah ibuku "ibu, bisakah ibu membantuku" tanyaku pada ibu "apa yang bisa ibu bantu sayang" tanya ibu kepadaku "begini bu sejak aku duduk dibangku smp hingga aku menginjak sma aku sudah tidak pernah lagi bertemu dengan sahabatku" jelasku "sahabat" jawab ibu sambil kebingungan "ya bu sahabatku Pieter, sudah lama sekali ia tak pernah datang ke rumah" ucapku pada ibu, ibu terdiam sejenak dan menjawab "bukankah sejak kecil kamu tidak punya sahabat" jawab ibu, saat ibu berkata demikian aku terserentak kaget "masa ibu menganggap ku tak pernah punya sahabat lalu kalau begitu siapa Pieter yang selama ini sering bermain denganku" tanyaku "ibu juga tidak tahu tapi dulu kamu memang sering menyebut-nyebut nama Pieter " jawab ibu demikian, aku lalu langsung pergi kekamar dan langsung merebahkan diriku di atas tempat tidur akupun membayangkan sosok Pieter sahabatku dan seketika muncul lah sosok Pieter berdiri di depanku aku kaget melihat sosok Pieter. Sosok Pieter tidak pernah berubah ia masih seorang anak kecil, setelah itu sosok Pieter hilang begitu saja hingga akhirnya tak sengaja aku membaca sebuah artikel di internet yang mengatakan bahwa otak seorang anak kecil itu mampu berimajinasi dan berkhayal seperti apa yang mereka ingin kan. Dan dari situ aku baru sadar bahwa selama ini Pieter hanyalah sahabat dalam khayalan ku dan selama ini aku bermain dengan khayalan ku sendiri, berarti sebenarnya Pieter masih ada, Pieter masih ada dalam imajinasiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar